{"id":197,"date":"2026-06-10T20:52:55","date_gmt":"2026-06-10T20:52:55","guid":{"rendered":"https:\/\/schola.id\/blog\/soal-pg-vs-pgk-kenapa-guru-sering-tertukar-mana-yang-lebih-oke\/"},"modified":"2026-06-10T20:52:58","modified_gmt":"2026-06-10T20:52:58","slug":"soal-pg-vs-pgk-kenapa-guru-sering-tertukar-mana-yang-lebih-oke","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/schola.id\/blog\/soal-pg-vs-pgk-kenapa-guru-sering-tertukar-mana-yang-lebih-oke\/","title":{"rendered":"Soal PG vs PGK: Kenapa Guru Sering Tertukar, Mana yang Lebih Oke?"},"content":{"rendered":"<p>Bapak\/Ibu Guru, pernahkah merasa bingung ketika mendengar istilah soal <strong>PG<\/strong> dan <strong>PGK<\/strong>? Dua singkatan ini memang sering berseliweran di dunia penilaian pendidikan, terutama saat kita mempersiapkan asesmen. Kadang, saking seringnya dipakai, kita jadi kurang teliti membedakannya. Padahal, memahami perbedaan mendasar antara keduanya bisa sangat membantu kita dalam merancang soal yang lebih efektif dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, apalagi di era Kurikulum Merdeka yang menekankan asesmen formatif dan sumatif.<\/p>\n<p>Saya sendiri, setelah belasan tahun mengajar dan berkecimpung di dunia teknologi pendidikan, seringkali melihat rekan-rekan guru masih sedikit gamang. Ada yang menganggap keduanya sama saja, ada juga yang merasa PGK itu cuma varian lain dari PG. Nah, mari kita luruskan bersama. Ini bukan sekadar soal istilah, tapi soal bagaimana kita bisa membuat soal yang benar-benar mengukur pemahaman siswa, bukan sekadar kemampuan menghafal.<\/p>\n<h2>Yang Mana Soal Pilihan Ganda Sejati?<\/h2>\n<p>Pertama, kita bahas yang paling familiar dulu: Soal Pilihan Ganda (PG). Dulu, ini adalah raja di dunia soal ujian. Bentuknya jelas: ada pokok soal (stem) dan beberapa pilihan jawaban, di mana hanya satu yang benar. Tujuannya? Mengukur kemampuan siswa dalam mengenali jawaban yang tepat dari serangkaian opsi yang diberikan.<\/p>\n<p>Namun, di sinilah letak jebakannya. Seringkali, soal PG yang kita buat hanya menguji kemampuan mengingat fakta atau konsep dasar. Contohnya:<\/p>\n<blockquote>\n<p>Siapakah presiden pertama Republik Indonesia?<\/p>\n<p>A. Soekarno<\/p>\n<p>B. Soeharto<\/p>\n<p>C. BJ Habibie<\/p>\n<p>D. Gus Dur<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Soal seperti ini memang mudah dibuat dan cepat diperiksa. Tapi, apakah benar-benar mengukur pemahaman mendalam? Siswa yang punya ingatan bagus pasti bisa menjawabnya. Tapi, bagaimana dengan siswa yang mampu menganalisis, mengevaluasi, atau bahkan menciptakan sesuatu berdasarkan konsep tersebut? Soal PG klasik seperti ini cenderung kurang mampu menggali kedalaman berpikir siswa.<\/p>\n<p>Bayangkan Bapak\/Ibu sedang mengajar tentang proklamasi kemerdekaan. Soal PG di atas hanya memastikan siswa hafal nama presiden pertama. Padahal, kita ingin tahu apakah siswa paham konteks sejarahnya, alasan pentingnya proklamasi, atau dampaknya bagi bangsa. Untuk itu, PG standar seringkali kurang greget.<\/p>\n<h2>Lalu, Apa Bedanya dengan PGK? Ini Kuncinya!<\/h2>\n<p>Nah, masuk ke Soal Pilihan Ganda Kompleks (PGK). Ini adalah evolusi dari soal PG. Kenapa kompleks? Karena soal PGK dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (LOTS) siswa. Alih-alih hanya memilih satu jawaban benar dari beberapa opsi, soal PGK bisa meminta siswa untuk:<\/p>\n<ul>\n<li>Memilih lebih dari satu jawaban yang benar.<\/li>\n<li>Menilai kebenaran dari beberapa pernyataan yang diberikan.<\/li>\n<li>Menghubungkan antara dua kolom informasi.<\/li>\n<li>Menyusun urutan langkah atau kejadian.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Intinya, PGK memaksa siswa untuk berpikir lebih kritis, menganalisis informasi, dan membuat keputusan berdasarkan pemahaman yang lebih utuh. Ini sangat relevan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka yang mendorong siswa untuk aktif berpikir dan berkreasi, bukan sekadar menerima informasi.<\/p>\n<h3>Mengapa PGK Lebih Unggul untuk Asesmen Masa Kini?<\/h3>\n<p>Mari kita lihat skenario praktis. Bapak\/Ibu mengajar tentang sistem pernapasan pada manusia. Menggunakan soal PGK, kita bisa membuat soal seperti ini:<\/p>\n<blockquote>\n<p>Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut terkait proses pernapasan manusia:<\/p>\n<p>1. Inspirasi terjadi karena rongga dada membesar.<\/p>\n<p>2. Ekspirasi diafragma terjadi secara aktif.<\/p>\n<p>3. Pertukaran gas O2 dan CO2 terjadi di alveolus.<\/p>\n<p>4. Kelenjar lendir di saluran pernapasan berfungsi menghangatkan udara.<\/p>\n<p>Manakah pernyataan yang benar mengenai sistem pernapasan manusia? (Pilih SEMUA yang benar)<\/p>\n<p>A. 1 dan 2<\/p>\n<p>B. 1, 3, dan 4<\/p>\n<p>C. 2 dan 4<\/p>\n<p>D. 3 dan 4<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Dalam contoh ini, siswa tidak hanya menebak. Mereka harus menganalisis *setiap* pernyataan, memverifikasi kebenarannya berdasarkan pemahaman mereka tentang fisiologi pernapasan, dan kemudian memilih kombinasi pernyataan yang paling akurat. Ini jauh lebih menantang dan mengukur pemahaman konseptual mereka secara lebih mendalam.<\/p>\n<p>Soal PGK juga bisa dirancang dalam format lain, misalnya menjodohkan gambar organ pernapasan dengan fungsinya, atau mengurutkan tahapan proses difusi oksigen dalam darah. Ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi guru untuk mengukur berbagai aspek kompetensi siswa.<\/p>\n<blockquote>\n<p><strong>Insight Penting:<\/strong> Banyak guru enggan membuat soal PGK karena merasa lebih rumit. Padahal, platform ujian online modern seperti Schola.id sudah menyediakan template dan fitur yang memudahkan pembuatan soal PGK tanpa perlu pusing dengan logika pemrograman atau format yang ribet. Guru cukup fokus pada kualitas konten soalnya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<h2>Tantangan Implementasi dan Solusinya<\/h2>\n<p>Tentu saja, beralih dari PG ke PGK bukan tanpa tantangan. Beberapa kendala yang sering dihadapi guru di lapangan:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Waktu Pembuatan Soal:<\/strong> Merancang soal PGK yang baik memang membutuhkan waktu lebih lama. Kita perlu memikirkan pernyataan-pernyataan yang logis, opsi jawaban yang mengecoh tapi tetap akurat secara ilmiah, dan memastikan soal tersebut benar-benar mengukur pemahaman, bukan sekadar trik.<\/li>\n<li><strong>Ketersediaan Alat Ujian:<\/strong> Tidak semua sistem ujian mendukung format PGK secara optimal. Seringkali guru harus manual membuat logika jawaban yang kompleks, yang tentu saja memakan waktu dan rentan kesalahan.<\/li>\n<li><strong>Adaptasi Siswa:<\/strong> Siswa yang terbiasa dengan soal PG mungkin akan merasa kaget atau kesulitan di awal saat dihadapkan pada soal PGK.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Bagaimana solusinya? Kuncinya ada pada adaptasi dan pemanfaatan teknologi yang tepat.<\/p>\n<h3>Tips Praktis untuk Bapak\/Ibu Guru:<\/h3>\n<ul>\n<li><strong>Mulai dari yang Kecil:<\/strong> Tidak perlu langsung mengganti semua soal PG menjadi PGK. Coba mulai dengan satu atau dua topik yang dianggap krusial, lalu buat beberapa soal PGK untuk mengukur pemahaman mendalam di topik tersebut.<\/li>\n<li><strong>Kolaborasi dengan Rekan Guru:<\/strong> Berbagi ide dan draf soal PGK dengan rekan sejawat bisa sangat membantu. Diskusikan mana pernyataan yang kurang jelas, mana opsi yang terlalu mudah ditebak, dan sebagainya.<\/li>\n<li><strong>Manfaatkan Fitur CBT Cerdas:<\/strong> Di sinilah teknologi berperan. Platform seperti Schola.id dirancang untuk memudahkan guru. Bapak\/Ibu bisa membuat soal PGK dengan berbagai format (pilih semua benar, menjodohkan, mengurutkan) tanpa perlu repot mengatur skoring manual. Sistemnya sudah otomatis menghitung dan memberikan umpan balik yang akurat. Ini bisa menghemat waktu Bapak\/Ibu secara signifikan.<\/li>\n<li><strong>Edukasi Siswa:<\/strong> Jelaskan kepada siswa apa itu soal PGK, mengapa jenis soal ini penting, dan bagaimana cara mengerjakannya. Berikan contoh soal latihan sebelum ujian sesungguhnya.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Ingat, tujuan utama kita adalah mendapatkan gambaran yang jujur tentang sejauh mana pemahaman siswa kita. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan penghalang. Dengan PGK yang dirancang dan diimplementasikan dengan baik, kita bisa mendapatkan data asesmen yang jauh lebih kaya dan bermanfaat untuk perbaikan pembelajaran ke depan.<\/p>\n<blockquote>\n<p><strong>Trade-off Jujur:<\/strong> Menggunakan PGK memang membutuhkan investasi waktu dan usaha lebih di awal, baik oleh guru maupun siswa. Namun, imbalannya adalah data asesmen yang lebih valid dan mendalam, yang pada akhirnya akan lebih membantu kita dalam merancang strategi pembelajaran yang tepat sasaran. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kualitas pendidikan.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Jadi, Bapak\/Ibu Guru, mari kita lebih bijak dalam memilih format soal. Soal PG tetap punya tempatnya, terutama untuk mengukur pengetahuan dasar. Tapi, untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, analisis, dan evaluasi, soal PGK adalah pilihan yang jauh lebih powerful. Dengan dukungan teknologi yang tepat, membuat dan mengelola soal PGK tidak lagi menjadi momok yang menakutkan.<\/p>\n<p>Jika Bapak\/Ibu tertarik mencoba kemudahan membuat berbagai jenis soal, termasuk PGK yang kompleks, tanpa perlu repot konfigurasi server atau instalasi rumit, Schola.id menyediakan platform Ujian Berbasis Komputer (CBT) yang user-friendly. Mulai dari pembuatan soal, penjadwalan ujian, hingga analisis hasil otomatis, semuanya terintegrasi. Coba jelajahi fitur-fitur Schola.id di schola.id.<\/p>\n<p class=\"ssp-image-credit\"><small>Photo by Katerina Holmes on Pexels<\/small><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bingung bedakan soal PG dan PGK? Yuk, kupas tuntas perbedaan mendasar, keunggulan PGK untuk asesmen Kurikulum Merdeka, dan tips praktis implementasinya.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":198,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[72],"tags":[123,4,121,122,5],"class_list":["post-197","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","tag-asesmen","tag-kurikulum-merdeka","tag-soal-pg","tag-soal-pgk","tag-teknologi-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=197"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":199,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197\/revisions\/199"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=197"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=197"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=197"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}