{"id":472,"date":"2026-07-29T12:05:51","date_gmt":"2026-07-29T12:05:51","guid":{"rendered":"https:\/\/schola.id\/blog\/akm-vs-ujian-sekolah-mitos-yang-perlu-diluruskan-guru\/"},"modified":"2026-07-29T12:05:54","modified_gmt":"2026-07-29T12:05:54","slug":"akm-vs-ujian-sekolah-mitos-yang-perlu-diluruskan-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/schola.id\/blog\/akm-vs-ujian-sekolah-mitos-yang-perlu-diluruskan-guru\/","title":{"rendered":"AKM vs Ujian Sekolah: Mitos yang Perlu Diluruskan Guru"},"content":{"rendered":"<article>\n<h2>Bukan Sekadar Ganti Nama, AKM dan Ujian Sekolah Punya Jiwa Berbeda<\/h2>\n<p>Bapak\/Ibu Guru, pernah merasa bingung membedakan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dengan ujian sekolah yang biasa kita adakan? Kadang terdengar mirip, kadang seperti musuh bebuyutan. Mari kita luruskan beberapa kesalahpahaman umum agar kita bisa lebih strategis dalam mempersiapkan siswa. Ini bukan soal mengganti satu dengan yang lain, tapi memahami esensi perbedaannya.<\/p>\n<h2>Mitos 1: AKM Itu Ujian Sekolah Versi Kemendikbud<\/h2>\n<p>Ini mungkin kesalahpahaman paling umum. Anggapan bahwa AKM adalah &#8216;ujian sekolah&#8217; yang diwajibkan pemerintah adalah keliru. AKM adalah bagian dari Asesmen Nasional (AN) yang tujuannya lebih luas dari sekadar mengukur pencapaian siswa per mata pelajaran.<\/p>\n<p><strong>Yang Sebenarnya Benar:<\/strong> AKM dirancang untuk mengukur literasi membaca dan literasi matematika sebagai kompetensi dasar yang dibutuhkan semua siswa, apapun mata pelajaran pilihannya. Tujuannya adalah memetakan kualitas sistem pendidikan, bukan menilai individu siswa secara langsung untuk kelulusan atau kenaikan kelas. Hasil AKM lebih digunakan untuk perbaikan proses belajar mengajar di masa depan, seperti feedback untuk sekolah dan daerah. Sementara itu, ujian sekolah, seperti yang Bapak\/Ibu susun, fokus pada pencapaian materi kurikulum spesifik per mata pelajaran dan biasanya digunakan untuk evaluasi belajar siswa di akhir semester atau jenjang.<\/p>\n<blockquote><p>AKM mengukur &#8216;apa yang bisa dilakukan siswa&#8217; dengan pengetahuan yang dimiliki, bukan &#8216;apa yang telah dihafal siswa&#8217;. Ini perbedaan krusial untuk melihat kesiapan masa depan.<\/p><\/blockquote>\n<h2>Mitos 2: Soal AKM Itu Susah, Jauh Lebih Sulit dari Ujian Sekolah Biasa<\/h2>\n<p>Banyak guru khawatir soal AKM itu sangat kompleks dan menguras waktu siswa. Padahal, tingkat kesulitan AKM itu bervariasi dan dirancang untuk mengukur kompetensi, bukan sekadar menguji daya ingat.<\/p>\n<p><strong>Yang Sebenarnya Benar:<\/strong> Soal AKM memang berbeda formatnya. Mereka lebih banyak menggunakan konteks dunia nyata (sosial, budaya, saintifik, personal) dan membutuhkan kemampuan bernalar, bukan sekadar mengingat fakta. Misalnya, soal literasi membaca bisa berupa menganalisis informasi dari sebuah artikel berita, bukan hanya menjawab pertanyaan tentang isi cerpen. Soal matematika bisa jadi tentang menghitung anggaran belanja keluarga, bukan sekadar menghitung luas bangun datar. Tingkat kesulitannya disesuaikan agar bisa dikerjakan oleh siswa dari berbagai latar belakang, dan yang terpenting, soal ini menguji kemampuan aplikasi konsep, bukan kerumitan perhitungan semata. Ujian sekolah kita, meskipun fokus pada kurikulum, juga bisa dirancang demikian. Kuncinya ada pada bagaimana kita merumuskan soalnya.<\/p>\n<p><strong>Tip Praktis:<\/strong> Coba gunakan soal-soal AKM sebagai referensi untuk membuat variasi soal ujian sekolah Bapak\/Ibu. Sisipkan soal berbasis konteks nyata atau yang membutuhkan analisis sederhana. Ini bisa melatih siswa berpikir kritis tanpa harus merasa terbebani oleh &#8216;soal AKM&#8217; yang ditakuti.<\/p>\n<h2>Mitos 3: AKM Menggantikan Semua Jenis Penilaian di Sekolah<\/h2>\n<p>Ada kekhawatiran AKM akan mengambil alih peran guru dalam menilai siswa, atau bahwa semua penilaian harus mengikuti format AKM. Ini tentu saja tidak benar.<\/p>\n<p><strong>Yang Sebenarnya Benar:<\/strong> AKM adalah salah satu instrumen asesmen nasional yang bersifat survei, bukan tes diagnostik individual untuk kelulusan. Bapak\/Ibu guru tetap memegang peran sentral dalam melakukan penilaian harian, tengah semester, akhir semester, serta penilaian formatif dan sumatif lainnya yang relevan dengan mata pelajaran dan kurikulum yang Bapak\/Ibu ajarkan. Justru, hasil AKM bisa menjadi masukan berharga untuk memperbaiki strategi pengajaran Bapak\/Ibu, misalnya jika ditemukan banyak siswa lemah di area penalaran kuantitatif, Bapak\/Ibu bisa lebih fokus pada jenis soal tersebut dalam ujian sekolah.<\/p>\n<blockquote><p>Pikirkan AKM sebagai &#8216;check-up&#8217; kesehatan sistem pendidikan secara umum, sementara ujian sekolah kita adalah &#8216;diagnosis&#8217; dan &#8216;terapi&#8217; personal untuk setiap siswa. Keduanya penting, tapi fungsinya beda.<\/p><\/blockquote>\n<h2>Mitos 4: Hanya Siswa Kelas Akhir yang Mengikuti AKM<\/h2>\n<p>Beberapa guru mungkin berpikir hanya siswa kelas 6 SD, 9 SMP, atau 12 SMA yang perlu &#8216;dipersiapkan&#8217; untuk AKM, karena dianggap sebagai ujian akhir.<\/p>\n<p><strong>Yang Sebenarnya Benar:<\/strong> Asesmen Nasional (termasuk AKM) diikuti oleh siswa di kelas tengah jenjang pendidikan, yaitu kelas 5 SD, kelas 8 SMP, dan kelas 11 SMA\/SMK. Tujuannya agar hasil asesmen dapat segera digunakan untuk perbaikan pembelajaran di tahun ajaran berikutnya. Jadi, Bapak\/Ibu guru yang mengajar di kelas 8 dan 11 punya peran langsung dalam mempersiapkan siswa menghadapi AKM. Namun, prinsip kompetensi yang diukur AKM\u2014literasi membaca dan matematika\u2014sebenarnya relevan diajarkan sejak dini. Membangun fondasi literasi dan numerasi yang kuat di kelas awal akan sangat membantu siswa saat mereka mencapai kelas tengah dan akhir.<\/p>\n<h2>Memanfaatkan Perbedaan untuk Pendidikan yang Lebih Baik<\/h2>\n<p>Memahami perbedaan mendasar antara AKM dan ujian sekolah bukan sekadar urusan administrasi atau kebijakan. Ini tentang bagaimana kita sebagai pendidik bisa lebih efektif dalam merancang pembelajaran dan penilaian. AKM memberikan gambaran makro tentang kompetensi literasi dan numerasi siswa, sementara ujian sekolah memberikan gambaran mikro tentang penguasaan materi spesifik per mata pelajaran.<\/p>\n<p>Bayangkan Bapak\/Ibu sedang mengajar materi pecahan di kelas 5. Ujian sekolah Bapak\/Ibu mungkin akan menguji siswa menghitung penjumlahan atau perkalian pecahan. Sementara itu, soal AKM yang relevan mungkin meminta siswa menggunakan konsep pecahan untuk menghitung sisa bahan makanan dalam resep atau membandingkan diskon dua toko berbeda. Keduanya melatih kemampuan matematika, namun dengan fokus dan konteks yang berbeda.<\/p>\n<p>Di Schola.id, kami memahami pentingnya berbagai jenis asesmen. Platform kami tidak hanya mendukung pembuatan soal ujian sekolah yang beragam, dari pilihan ganda hingga esai, tetapi juga memfasilitasi analisis hasilnya secara otomatis. Ini memungkinkan Bapak\/Ibu fokus pada pengajaran dan pemahaman siswa, sementara urusan teknis penilaian kami bantu. Jika Bapak\/Ibu ingin mencoba sistem yang memudahkan pembuatan dan pengelolaan berbagai jenis asesmen, termasuk yang mengadopsi prinsip AKM, Schola.id bisa menjadi solusi praktis. Cek fitur lengkapnya di schola.id.<\/p>\n<\/article>\n<p class=\"ssp-image-credit\"><small>Photo by RDNE Stock project on Pexels<\/small><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bongkar tuntas mitos seputar AKM dan Ujian Sekolah. Pahami perbedaan esensialnya agar Bapak\/Ibu Guru bisa lebih strategis dalam menilai siswa.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":473,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[72],"tags":[277,278,68,4,67,26],"class_list":["post-472","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","tag-akm","tag-asesmen-nasional","tag-guru-indonesia","tag-kurikulum-merdeka","tag-penilaian-siswa","tag-ujian-sekolah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/472","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=472"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/472\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":474,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/472\/revisions\/474"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/473"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=472"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=472"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/schola.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=472"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}