Malam itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 11. Lampu meja di ruang kerja Bu Sari masih menyala terang. Di hadapannya, tumpukan kertas soal ujian semester tampak menggunung. Bukan karena ia suka begadang, tapi karena ia sedang mencoba merangkai soal-soal yang benar-benar menguji pemahaman siswa, bukan sekadar hafalan. Terutama untuk AKM Literasi, yang formatnya terasa berbeda dari soal-soal ujian sekolah pada umumnya. Bu Sari menghela napas, matanya tertuju pada layar laptopnya, mencari inspirasi dan contoh yang pas.
AKM Literasi Itu Bukan Sekadar Baca Teks
Seringkali kita salah paham. AKM Literasi, yang menjadi salah satu komponen penting dalam Asesmen Nasional, bukan hanya tentang kemampuan membaca. Ini lebih dalam dari itu. Bayangkan begini, Bapak/Ibu Guru, kalau kita hanya menyuruh siswa membaca sebuah cerita pendek, lalu bertanya siapa nama tokohnya, itu namanya tes pemahaman bacaan dasar. AKM Literasi melangkah lebih jauh.
AKM Literasi menguji kemampuan kita (dan siswa kita) untuk:
- Memahami makna teks (tersurat maupun tersirat).
- Mengevaluasi informasi dalam teks, termasuk kredibilitas sumbernya.
- Merefleksikan isi teks untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain.
Artinya, siswa tidak hanya dituntut untuk tahu apa yang tertulis, tapi juga bisa ‘berdialog’ dengan teks tersebut. Mereka harus bisa menarik kesimpulan, membandingkan informasi, bahkan mengidentifikasi bias atau sudut pandang penulis. Ini adalah keterampilan abad ke-21 yang krusial, Bapak/Ibu. Keterampilan yang seringkali tidak terukur dengan soal pilihan ganda biasa.
Mengapa Guru Perlu ‘Membongkar’ Soal AKM Literasi?
Jujur saja, Bapak/Ibu Guru. Awalnya saya sendiri agak bingung ketika pertama kali mendengar soal AKM Literasi. Rasanya kok beda ya? Formatnya lebih kompleks, teksnya beragam, dan pertanyaannya seringkali membuat siswa berpikir keras, bahkan kadang membuat kita sebagai guru pun ikut berpikir. Tapi justru di situlah letak kekuatannya.
Ketika kita memahami cara kerja soal AKM Literasi, kita jadi punya peta jalan yang lebih jelas. Kita tidak lagi membuat soal hanya berdasarkan ‘perasaan’ atau kebiasaan lama. Kita bisa merancang pembelajaran yang memang membekali siswa dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi asesmen semacam ini, dan yang lebih penting, untuk kehidupan nyata mereka.
AKM Literasi melatih siswa untuk menjadi pembaca kritis, bukan sekadar pembaca pasif.
Jika kita hanya terpaku pada soal-soal hafalan, kita akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan analisis, evaluasi, dan penalaran siswa. Ini yang seringkali menjadi *insight* tersembunyi bagi saya: AKM Literasi ini sebenarnya adalah cermin dari tujuan pembelajaran yang lebih mendalam, yang mungkin selama ini sudah kita ajarkan, tapi belum terukur secara efektif.
Contoh Soal AKM Literasi: Dari Mana Mulainya?
Mari kita lihat beberapa contoh konkret. Kita tidak perlu membuat soal sekompleks yang mungkin muncul di AKM sesungguhnya, tapi kita bisa mengadaptasi prinsipnya.
1. Memahami Informasi Tersirat dalam Teks Deskriptif
Teks (Contoh Sederhana):
‘Di sudut pasar tradisional itu, terhampar kerajinan tangan dari anyaman bambu. Tas-tas cantik dengan motif bunga yang rumit, topi lebar untuk melindungi dari terik matahari, dan berbagai hiasan dinding yang memesona. Ibu-ibu penjualnya tersenyum ramah, sesekali menyapa calon pembeli yang lewat, menawarkan harga yang bisa ditawar sedikit. Aroma kopi tubruk yang baru diseduh menyeruak dari warung kecil di sebelahnya.’
Pertanyaan (Analogi AKM):
Berdasarkan teks tersebut, informasi apa yang paling mungkin Bapak/Ibu simpulkan mengenai suasana di sudut pasar itu?
- Suasana sangat ramai dan bising karena banyak pedagang berteriak menawarkan barang.
- Pedagang bersikap ramah dan berusaha menarik pembeli, menciptakan suasana yang hangat.
- Aroma kopi yang kuat mendominasi seluruh area pasar.
- Kerajinan bambu yang dijual sangat mahal sehingga hanya sedikit orang yang membeli.
Mengapa ini mirip AKM Literasi? Soal ini tidak menanyakan ‘apa yang dijual’. Siswa harus membaca deskripsi ‘tersenyum ramah’, ‘menawarkan harga yang bisa ditawar’, dan ‘aroma kopi’ untuk menyimpulkan suasana yang ‘hangat’ dan ‘ramah’, bukan sekadar ‘ramai’ atau ‘banyak barang’. Pilihan A, C, dan D adalah distractor yang bisa saja benar di pasar lain, tapi tidak didukung oleh detail teks yang diberikan.
2. Mengevaluasi Informasi dari Dua Teks Berbeda
Misalnya, kita berikan siswa dua artikel pendek tentang manfaat sarapan. Artikel A menyatakan sarapan sangat penting untuk energi dan konsentrasi, mengutip penelitian dari universitas ternama. Artikel B, meskipun juga menyebut sarapan penting, lebih banyak membahas risiko obesitas jika sarapan terlalu banyak gula, dan mengutip sumber dari blog kesehatan yang tidak jelas penulisnya.
Pertanyaan (Analogi AKM):
Jika Anda adalah siswa yang perlu memutuskan kebiasaan sarapan terbaik, informasi dari teks mana yang lebih Anda percayai dan mengapa?
Insight Non-Obvious: Di sini, siswa tidak hanya diminta memilih mana yang ‘benar’, tapi mana yang *lebih bisa dipercaya* berdasarkan kredibilitas sumbernya. Ini melatih kemampuan evaluasi kritis yang sangat dibutuhkan di era banjir informasi ini. Guru bisa mencontohkan ini di kelas: ‘Lihat, artikel A menyebutkan sumbernya dari universitas X, itu jelas lebih kuat dibanding blog Y yang kita tidak tahu siapa penulisnya, kan?’
3. Merefleksikan Isi Teks untuk Kehidupan Pribadi
Setelah membaca teks tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah, kita bisa ajukan pertanyaan:
Pertanyaan (Analogi AKM):
Menurut Bapak/Ibu, tindakan nyata apa yang bisa kita lakukan di lingkungan sekolah kita setelah membaca teks tadi? Jelaskan alasannya.
Praktik Langsung untuk Guru: Bapak/Ibu bisa meminta siswa membuat poster sederhana, merencanakan kegiatan Jumat bersih, atau menulis jurnal singkat tentang komitmen mereka. Ini menghubungkan teks dengan aksi nyata, menguji pemahaman yang terinternalisasi.
Menghadapi Tantangan di Lapangan
Saya tahu, Bapak/Ibu. Membuat soal seperti ini butuh waktu ekstra. Belum lagi kalau koneksi internet di sekolah kurang stabil, atau tidak semua siswa punya gawai untuk akses materi digital. Itu realita yang kita hadapi.
Namun, prinsip dasar AKM Literasi ini bisa kita adaptasi. Kita bisa menggunakan teks dari buku pelajaran yang ada, atau bahkan dari koran lokal. Yang terpenting adalah bagaimana kita merangkai pertanyaannya. Kita bisa mulai dengan kelompok kecil, atau menggunakan metode diskusi di kelas untuk menggantikan soal tertulis yang kompleks jika perangkat terbatas.
Kuncinya, Bapak/Ibu Guru, adalah kita tidak perlu menunggu AKM itu datang. Kita bisa mulai mengintegrasikan cara berpikir literasi kritis ini dalam setiap pelajaran. Mulai dari membaca buku cerita, menganalisis berita sederhana, sampai mendiskusikan instruksi tugas. Pelan-pelan, tapi pasti.
Langkah Selanjutnya untuk Bapak/Ibu Guru
Mencoba membuat satu atau dua soal berbasis AKM Literasi per minggu untuk latihan di kelas adalah langkah awal yang bagus. Pilih teks yang relevan dengan materi pelajaran Bapak/Ibu, lalu rancang pertanyaan yang menguji pemahaman mendalam, evaluasi, atau refleksi.
Jika Bapak/Ibu mencari platform yang memudahkan pembuatan berbagai jenis soal, termasuk yang menguji literasi, dan bisa digunakan untuk asesmen formatif maupun sumatif tanpa perlu pusing *setup* teknis yang rumit, Schola.id menyediakan solusi CBT dan LMS yang terintegrasi. Bapak/Ibu bisa fokus membuat soal dan mengajar, sisanya biar platform yang menangani. Silakan cek fitur-fiturnya di schola.id.
Bagaimana, Bapak/Ibu Guru? Siap membongkar soal AKM Literasi dan membekali siswa dengan kemampuan membaca kritis yang sesungguhnya?
Photo by RDNE Stock project on Pexels
